OASIS KNEBWORTH 1996: Kisah Di Balik Salah Satu Gigs Terbesar Se-Britania Raya

Poster Oasis Knebworth 1996

Sejak 2016 total ada tiga film dokumenter mengenai Oasis, yang dimana hal tersebut menjadi obat penawar rindu bagi fans Oasis di seluruh dunia khususnya rindu melihat keakraban Liam dan Noel di panggung yang sama. Tiga film dokumenter tersebut adalah; Supersonic (2016), Liam Gallagher As It Was (2019) dan yang terakhir rilis adalah Oasis Knebworth 1996 (2021). Bila Supersonic menceritakan bagaimana sejarah perjalanan Oasis, Liam Gallagher As It Was berfokus pada kehidupan Liam Gallagher setelah dan sesudah Oasis, lalu Oasis Knebworth 1996 seperti judulnya adalah mengenai bagaimana rekam jejak gigs atau konser fenomenal Oasis di Knebworth pada 1996.

Tahun 1996 merupakan tahun yang meriah bagi warga Inggris, dimana pada tahun tersebut Inggris menjadi tuan rumah Euro 1996, di dunia perfilman ada Trainspotting yang menjadi salah satu film tersukses Inggris, lalu di dunia musik Britpop pada tahun-tahun tersebut sedang berjaya-jayanya dengan diwarnai persaingan antara dua band terbsesar Inggris pada saat itu yang dikenal dengan Oasis VS Blur. Di masa puncaknya Oasis mengumumkan akan menggelar konser pada Agustus 1996, dimana pengumuman tersebut menyita banyak perhatian hingga 2,6 juta orang berebut untuk mendapatkan tiket konser yang akan digelar di Knebworth pada dua malam itu. Total ada 250.000 orang yang beruntung mendapatkan tiket tersebut, yang tiap malam akan dihadiri 125.000 orang penonton.

Continue reading

We Couldn’t Become Adults (2021): Menyelami Tiap Langkah di Masa Lalu

Film yang tepat di waktu yang tepat…
Yes itulah yang saya rasakan menonton film ini, menceritakan seorang pria bernama Makoto Sato seorang graphic designer yang teringat akan cinta dan patah hati terbesarnya yang membawa kita kembali ke tahun-tahun belakang untuk menyelami kisah dan penyesalannya.

Yang menarik selain dari ceritanya adalah dari sisi detail perkembangan teknologi dan jaman dari film ini yg sangat nyata, seperti saat di tahun 90an di mulai dengan surat-menyurat, lalu telepon koin, diakhir 90 beralih menggunakan teknologi pager, lalu masuk ke milenium 2, ramalan Nostradamus salah yang memperkirakan dunia berakhir di tahun 1999, lalu ada teknologi handphone lipat, selanjutnya era modern mulai menggunakan smartphone dan kantor pun sudah banyak menggunakan monitor tipis, sampai kembali di tahun 2020 terjadi pandemi corona terlihat dari sistem kerja yang menggunakan video meeting, orang-orang menggunakan masker, terdapat jam malam sampai adanya layanan bimbel online.

Selain menyelami masa lalu Makoto Sato, saya juga menyelami masa lalu saya sendiri, terlalu banyak scene yang mengingatkan saya akan patah hati terbesar yang pernah dialami, entah berapa kali saya mempause dan menghirup udara dengan tarikan yang panjang untuk mengontrol emosi. Seperti sebuah trigger, film ini berhasil meledakan memori yang selama ini saya simpan dan coba lupakan, apalagi hari ini tidak seperti biasa saya keluar rumah untuk berkeliling jalan-jalan, lalu saya menziarahi tempat-tempat di mana kenangan itu tercipta, sama halnya seperti scene penutup dari film ini, saat Sato berlari berkeliling ke tempat-tempat di mana semua kenangan di masa lalunya tercipta.
Lalu saat scene Sato melihat smartphonenya dan menyelami profil mantannya dan melihat foto2 dia yang sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, damn! ancur! Atau juga saat Sato sedang minum2 di bar, seorang teman berkata “patah hati oleh wanita hanya bisa disembuhkan oleh wanita lagi” dan selanjutnya Sato menemukan pengganti tapi akhirnya patah hati untuk kedua kalinya, atau Sato di tahun yg lebih jauh mencoba untuk menjalin cinta kembali tapi akhirnya dia harus mengakui bahwa dia tidak bisa berkomitmen karena masih dihantui oleh patah hati yang ia rasakan, hahaha I’ve been there! Dan masih banyak lagi scene2 yang mengingatkan saya dengan seseorang di masa lalu.

Pada akhirnya menonton film ini secara tidak langsung seperti menonton kisah-kisah penyesalan yang dialami sendiri, terkadang ada momen saat kita melamun dan jauh membayangkan memori2 indah yang menjadi menyakitkan dan berangan-angan ingin kembali ke masa itu, dan berharap momen itu abadi.

“Saat kau masih kecil apa ini yang kau inginkan?”

Sebanyaknya Mencari Teman

Mencari teman sebanyak-banyaknya saat sekolah,
Untuk diundang ke pernikahannya dan tidak menghadirinya.

Mencari teman sebanyak-banyaknya saat sekolah,
Hanya untuk mendapatkan pesan “Assalamu’alaikum, manawi gaduh artos tiis?”

Mencari teman sebanyak-banyaknya saat sekolah,
Untuk mengucapkan selamat atas kelahiran anak pertama mereka.

Mencari teman sebanyak-banyaknya saat sekolah,
Untuk mengucapkan duka atas kepergian orang terdekat mereka.

Mencari teman sebanyak-banyaknya saat sekolah,
Hanya untuk datang ke pemakaman mereka.

Continue reading